26 Desember 2008

Pengusaha vs Karyawan = Mental

BY Nunung Indrianto IN 10 comments

Hidup memang pilihan. Setiap pilihan ada tanggung jawab dan resikonya. Banyaknya lowongan CPNS telah mengganggu (dalam tanda petik) benak saya yang sudah sejak 2002 menjatuhkan pilihan menjadi pengusaha (baca: pengangguran banyak usaha). But, this is a life...setiap pilihan ada resiko. Jadi pengusaha, bayaran ndak tentu, tidak punya dana pensiun yang jelas, dan lain-lain...klo jadi karyawan kan jelas semuanya...thus, perenungan pengusaha versus karyawan akhirnya dimenangkan oleh komitmen tetap menjadi pengusaha, paling tidak sampai hari ini.

Obrolan dengan saudara sepupu saya beberapa waktu lalu lebih seru lagi. Saudara saya ini menjadi salah satu manajer di Carefour di Surabaya. Suaminya juga menjadi kepala distributor sebuah produk sembako di Tuban..what's happen with them? Mereka mengaku kewalahan mencari pembantu untuk menemani anak2nya yang masih sekolah SD. Setiap hari mereka berangkat pagi, sampek rumah malam ketika anak2nya udah pada ngantuk, bahkan tak jarang udah pada tidur. Masalah semakin timbul, ketika salah satu dari putra mereka, ngambek, dan tidak cocok dengan sang pembantu. Entahlah bagaimana ceritanya, sampai akhirnya, pembantu ini ndak betah dan pulang kembali ke daerah asalnya di Jember. Dari obrolan kami, disimpulkan bahwa bagaimanapun mereka ingin berusaha menjadi orang tua yang baek, yang selalu mendampingi anak2nya setiap hari. Tidak diserahkan kepada pembantu. Pekerjaan? Saudara saua ini juga menyampaikan impiannya untuk berwirausaha saja. Tapi karena sudah 'terjebak' dengan rutinitas pekerjaannya, akhirnya mereka tidak punya waktu lagi untuk mempersiapkan segalanya. Modal yang mereka siapkan tidak cukup untuk mengimbangi persiapan mental menjadi wirausahawan. Padahal secara kemampuan teknis, mereka berdua punya modal dan bekal dong sebagai pebisnis dibidang retail sembako, distribusi dan sebagainya. Tapi kalo soal mental, mereka tetap saja mengaku belum siap. Mungkin karena mereka tau betul seluk beluk di bidang itu, manis pahitnya, ruwet-semrawutnya, mereka akhirnya tetap bersikukuh bahwa mreka belum siap.

Jadi kesimpulannya, mental tetap menjadi peran sentral. Mental mereka yang telah terbentuk menjadi seorang karyawan/eksekutif turut menurunkan semangat mereka untuk mengubah haluan menjadi pengusaha. Walaupun kadang-kadang mereka 'curhat' kasihan anak-anaknya...tp tetep saja mereka menunda semua impian menjadi pengusaha. Dan sekarang , mereka menelpon saya untuk minta bantuan mencari pembantu buat keluarga mereka...



10 komentar:

  1. isi petromaxxxxx pake pertamaxxxxx....bener gak yah

    BalasHapus
  2. mental pengusaha sendiri yang seperti apa seh.....??? koq gak dijelaskan di postingan ene......

    kalo menurut saya mental pengusaha saat menjadi karyawan bisa memacu semangat buat memimpin diri sendiri dan mewujudkan tujuan hidup. Karena pada dasarnya pengusaha adalah mereka2 yg berpikiran kedepan, realistis, optimis, jangkauannya jauh, mampu memperkirakan sebab akibat sebelum melangkah. So pengusaha = orang yang sukses, seperti yang menjadi fenomena dimasyarakat karena faktor2 tersebut.

    *maap jadi curhat*
    oh ya mas...pesen pembantu rumah tangga juga dong kalo ada..hehehehe....*serius ene mas*

    BalasHapus
  3. Yup! Aku mengalami hal seperti ini. Akhirnya aku putuskan istriku (boleh) bekerja asal paruh waktu, atau bikin usaha sendiri di rumah.
    Masalahnya, aku ndak rela anak2 kurang mendapat perhatian orang tua (lha apa gunanya uang banyak, tetapi anak2 "miskin" kasih sayang?).

    Prie
    http://sugengpribadi.co.cc

    BalasHapus
  4. Ya bgitulah. Kita juga dah didoktrin utk bekerja bukan utk jadi pengusaha. Dulu waktu SD pasti cita2nya mo jadi dokter, IR, Guru dll. Gak ada yg mau jadi pengusaha.

    Salam kenal

    BalasHapus
  5. @Daniel : salam kenal juga..thanks, iya gitu deh..orang tua kita dulu masih menganggap jadilah kaum priyayi (guru, pegawai dsb)...pedagang dan saudagar..masih dianggap kelas no. 2...blogger, kelas brpa dong?

    @betul bos Prie..sama dengan saya...istri boleh kerja, tp tetep yg utama perhatian ama anak..

    @Anna : nah, ini kan ada jawabnya..ya gitu dong mental pengusaha...kayaknya si non udah tau betul..pembantu?butuh berapa?agak sulit lo..

    BalasHapus
  6. Tull apa kata mas nindrianto..hidup itu pilihan,dan setiap pilihan punya resiko..begitupun pilihanku menjadi tkw yg juga membutuhkan kesiapan mental tuk menjalaninya...

    BalasHapus
  7. Udah mas, nggak usah ngikutin mau masuk PNS, Kita juga bisa ikut pensiun dari DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) atau ikut program Asuransi yang ada pensiunnya,.. banyak kok coba aja Jiwasraya Asuransinya Pemerintah,,, produknya namanya astha Plus,... program asuransi plus Pensiun,...kalo hitung-hitung pensiun emank pensiun PNS berapa ? mending duitnya buat beli Kos-kosan yang banyak? ya Tho bikin usaha yang banyak,... itu pensiun kita anti Inflasi,.. kalo PNS misalnya Pensiun 2 Juta tahun 2015 apa masih cukup buat memenuhi kebutuhan?

    www.e-publishingmedia.co.cc

    BalasHapus
  8. Baiklah, baiklah.

    Saya sudah memutuskan untuk keluar dari MNC corporation dan fokus doing my own business. I will create my side business become my core income. Doakan teman2 agar cita-cita tercapai, diberi kemudahan dan kekuatan mental.

    omental, itu memang harus dilatih.Kalo ga pernah terjun, maka kita ga pernah tau bahwa kita itu bisa apa nggak. Bahwa kita itu kuat apa nggak.

    Padahal kan manusia itu diciptakan sempurna, dan seharusnya sempurna.

    Berbekal video "The Secret" dan "Quantum Ikhlas", mari kita gapai mimpi dengan mengubah frekuensi berpikir kita sesuai dengan yg ingin kita capai.

    Seperti di bidang quantum physic, Einstein bilang : semua yg nyata hanya ilusi. Tidak ada pemisahan waktu dan ruang. Masa lalu, kini, dan nanti sebenarnya di satu waktu, hanya beda frekuensi saja. Ibarat siaran radio,semua ada di satu waktu. TInggal kita menyesuaikan frekuensi pikiran kita dengan frekuensi keihlasan dan kesuksesan... (hehehe, nyambung ga sih).

    Oya, yg perlu Selimut jepang yang SUPER HANGAT, Kualitas International, tapi dengan harga lokal, bisa kunjungi di : http://www.gudangselimut.co.cc

    Atau yg perlu biofir untukmenjaga kesehatan, bisa aca-baca dan beli di : http://www.batubiofir.com

    BalasHapus
  9. tapi begitulah, sebuak commit..., karena Career yang Suksesadalah suatu yang menunjang kehidupan kita

    BalasHapus
  10. Pengalaman saya unik, saya tamatan s1, sempat kerja di bank 2 tahun dan memutuskan resign di bank untuk jadi pengusaha peternakan, usaha berjalan sukses 1 tahun dan kemudian bangkrut. Kini saya jadi karyawan lagi dgn jabatan manager, gaji saya tabung untuk jadi modal usaha, rencana bulan depan saya resign untuk jadi wirausahawan lagi. Saya ini bebal ga akan kapok meskipun seribu kali gagal

    BalasHapus

Bagaimana pendapat Anda tentang tulisan di Blog Nindrianto ini? Speak up your mind...

It's Me !