15 Februari 2009

Fenomena Ponari dan Patch Adams

BY Nunung Indrianto IN 18 comments

Fenomena Ponari, terasa sangat kental akhir-akhir ini. Praktek pengobatan ala Ponari, sang bocah ajaib dari Jombang, Jatim, yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Kisahnya bermula ketika dia secara tiba-tiba mendapatkan sebuah batu ketika ada petir menyambar di sekitar dia bermain, inilah batu petir. Kemudian, singkat cerita, batu itu dibawa ke keluarganya, dan akhirnya di antara keluarga Ponari itu ada yang mendapat semacam 'wangsit/ilham/bisikan ghaib' yang mengisyaratkan bahwa batu itu berkhasiat menyembuhkan penyakit. Setelah dicoba kepada adik Ponari yang waktu itu menderita muntaber dan si adik sembuh, maka tersebarlah berita ini ke seluruh pelosok desa dan terus seperti berantai, miriplah dengan bisnis MLM, terus menyebar hingga ke seluruh kota dan luar kota bahkan hingga tersebar di negeri ini. Ratusan, bahkan ribuan orang rela mengantri untuk mendapatkan pengobatan dari Ponari, anak berumur 1o tahun, kelas 3 SD dan tinggal di rumah berdinding 'gedhek' (bambu) ini. Pengobatan yang dilakukan adalah layaknya seorang 'dukun' mengobati pasiennya, yaitu batu itu dicelupkan di segelas air atau mangkok, kemudian air itu diminumkan kepada si sakit. Sampai berita terakhir hari ini, tidak terdengar adanya pasien yang menggugat pengobatan Ponari. Apakah sembuh atau bagaimana, tidak ada berita. Yang pasti, Ponari ini telah 'sukses' menyedot perhatian orang bahkan berbagai media cetak dan elektronik hingga media online pun tidak luput mengupas soal berita Ponari, sang bocah ajaib. Dari sumber berita juga disebutkan, penghasilan parkir para 'pasien' Ponari, tidak kurang dari 5 juta rupiah perharinya. Bahkan keluarga Ponari ini telah menyumbang dana untuk desanya dalam pembangunan jalan menuju rumahnya. Dilansir juga, bahwa pendapatan dari uang sukarela para pasien kepada Ponari, bisa mencapai puluhan juta rupiah perharinya. Wah! Wah! Berita terakhir disebutkan praktek Ponari ini sementara ditutup aparat, dikarenakan adanya korban meninggal, akibat kelelahan fisik terlalu lama mengantri.

Saya tertarik mengulas fenomena Ponari ini, karena saya jadi ingat film Patch Adams. Mudah2an diantara pembaca ada yang sudah menontonnya. Film ini mengisahkan seorang calon dokter atau dokter muda yang dipecat dari universitasnya karena dianggap berpotensi menganut praktek kedokteran yang tidak lazim. Bagaimana sesungguhnya? Film ini diangkat dari kisah nyata seorang bernama Hunter Campbells 'patch adams', demikian nama lengkapnya, lahir pada 28 Mei 1945 di Washington. Setelah menempuh SMA pada tahun 1963, Patch Adams menyelesaikan pendidikan medisnya dan memperoleh gelar Doctor of Medicine dari Medical College of Virginia, Health Sciences Division of Virginia Commonwealth University. Patch kemudian menikah dengan Linda. Bersama-sama dengan para sahabatnya, Patch dan Linda mendirikan Gesundheit! Institute yang mengelola rumah sakit gratis. Patch percaya bahwa menyembuhkan seharusnya merupakan sebuah interaksi antarmanusia yang penuh kasih sayang, kreatif, dan humoris, bukan melulu transaksi bisnis. Menurutnya lebih jauh, pengobatan berteknologi tinggi dewasa ini sangat mahal (karena itu dia tak memungut bayaran atau menggunakan asuransi dari pihak ketiga), tidak manusiawi (dia menghabiskan waktu hingga empat jam untuk mencatat riwayat awal dari setiap pasien), dan suram (”Sehat,” kata Patch, ”berkaitan dengan tawa.”).

Mengapa saya mengangkat dan mensebandingkan film Patch Adams dengan Ponari? Karena saya terusik dengan beberapa pendapat sebagian masyarakat yang ditayangkan di televisi. Misalkan seorang dokter senior yang berpendapat betapa bahayanya bila praktek Ponari ini berkembang semakin jauh karena akan menyesatkan masyarakat akan arti pengobatan medis yang sesungguhnya. Dokter ini juga menekankan bahwa sebenarnya yang terjadi di pengobatan Ponari tidak lebih dar sekedar pengobatan sugesti. Juga seorang ulama yang mengingatkan masyarakat agar jangan sampai terjadi syirik, dimana akhirnya orang percaya bahwa yang menyembuhkan penyakit adalah Ponari dan batunya, bukan Allah swt. Saya tidak akan ikut memvonis, apakah praktek Ponari ini berbahaya atau tidak. Yang jelas, ribuan orang telah membuktikan. Ribuan orang percaya. Ini bukan soal kemiskinan dan tidak adanya biaya berobat secara medis. Ini juga bukan soal kebodohan. Karena para pengantri Ponari tidak semuanya orang tidak berpendidikan. Benar kata seorang sosiolog, seorang yang menderita penyakit, apalagi penyakit kelas berat, terjadi kepanikan didalam dirinya. Sehingga apapun dilakukan untuk mendapat kesembuhan. Sekarang bila diberikan pilihan. Berobat ke dokter dengan biaya mahal, berobat ke rumah sakit gratis tetapi dengan syarat-syarat administrasi yang ribet, dan berobat gratis ke Ponari. Ketiga pilihan ini sama-sama berpeluang sembuh. Artinya bisa sembuh, bisa juga tidak. Orang berobat ke dokter, tentu bnyak bukti yang berhasil sembuh. Namun yang tidak sembuh juga banyak. Istilahnya ndak cocok ke dokter itu. Orang berobat ke dukun, juga banyak terbukti sembuh. Yang tidak sembuh? Juga banyak... Jadi sama-sama kan? Lalu kenapa ribuah orang mengantri ke Ponari? Saya kira ada baeknya kita menyimak kembali ke film Patch Adams. Dokter ini menyediakan rumah sakit gratis dan dengan metoda penyembuhan tanpa obat. Pasien hanya dibuat senang, happy dan merasakan indahnya hidup. Saya ingat di film itu, ketika seorang nenek lumpuh, dokter Patch Adams bertanya, adakah keinginan hidup si nenek yang belum terpenuhi? Nenek itu menjawab, ada. Dia ingin mandi di kolam spaghetti. Nah, dokter nyeleneh inipun akhirnya bersama timnya menyediakan sekolam spaghetti untuk sang Nenek. Kemudian si nenek 'nyemplung'...untuk beberapa saat. Betapa bahagianya sang Nenek. Impian selama hidupnya akhirnya terwujud. Dan tiba-tiba, kelumpuhan si nenek menghilang. Dia bisa berjalan kembali tanpa kursi roda. Dia bisa berdiri! Itu adalah satu contoh saja. Yang jelas pasien dokter Patch Adams tidaklah sedikit. Ketika aparat setempat menutup prakteknya dengan alasan 'mal praktek dan segala macam', ribuan orang juga memprotes keputusan pengadilan.

Saya pikir, kita harus lebih bijak. Praktek Ponari adalah cubitan buat pemerintah, rumah sakit, para medis dan dokter. Buatlah pasien itu senang ketika berada di rumah sakit. Didiklah para perawat-perawat itu mampu berinteraksi secara personal dengan pasien. Ini juga bukan soal uang. Orang akan membayar berapapun agar bisa sehat kembali. Tetapi juga diingat, salah satu momok masyarakat kita ketika harus berobat, adalah soal biaya. Pengobatan gratis terhadap masyarakat tidak mampu adalah benar dan harus didukung. Terapkan saja yang sebenar-benarnya. Jangan ada lagi penyunatan dana lagi. Kalau memang dianggarkan untuk masyarakat, ya sudah berikan saja. Bagaimana dengan masyarakat yang tidak miskin?Terapkan saja biaya yang semestinya. Kalau memang harus subsidi silang ya terapkan saja. Tetapi, please..jangan bedakan perlakuan terhadap yang gratis atau tidak gratis. Di negeri ini, terutama di rumah sakit negeri, perlakuan rumah sakit terhadap masyarakat umum dengan kelas pavilyun jelas beda. Lihatlah, dan bandingkan wajah-wajah para perawat di kelas pavilyun atau kelas VIP...kemudian pindahlah liat wajah-wajah para perawat di kelas bangsal atau kelas ekonomi. Hehehe....apa-apan ini? Jadi jangan heran, kalo praktek Ponari ini lebih populer. Bahkan kalau para dokter, maaf-maaf nih, semakin meninggikan suara dan berkata, praktek Ponari menyesatkan, tidak ilmiah, tidak terbukti secara klinis, tidak dapat dipertanggungjawabkan dan sebagainya....bukan tidak mungkin akan terus bermunculan Ponari-ponari yang lain....Hmm...

Buat ulama, saya juga merendahkan suara buat Anda, berilah contoh reaksi yang baik...karena orang berobat ke dokter pun bisa berakibat syirik. Kenapa? Lah, kalo keimanan seseorang itu lemah, kan bisa saja berkeputusan, bahwa sang dokterlah yang menyembuhkan...bukan Sang Maha Pemberi Obat, Allah Azza Wa Jalla....karena, saya yakin, obat penyembuh penyakit itu tidak berasal dari bantuan dokter saja...

Buat Ponari...salam kenal...sekolah lagi ya...ditunggu blognya....wekekekee.....

18 komentar:

  1. Jombang memang selalu bikin heboh...
    habis jagal jombang (baca: ryan)...eh sekarang ponari...
    Jember kapan bisa kayak gitu?

    BalasHapus
  2. wah hebat bgt tuh bocah mas :D

    BalasHapus
  3. Menurut opini mas ada benarnya, tapi ada juga kelirunya.
    Pertama, metoda pengobatan Hunter Campbells "Patch Adams" secara logika/akal sehat, bisa kita temukan kemasuk akalan (logis) dari metoda pengobatan tsb. Akan tetapi metoda pengobatan Ponari (minum air dari celupan batu), apa masuk akal dan logika kita? Itulah kenapa para Dr (medis) menyebutkannya hanya sugesti.
    Kedua, dari analogi 3 pilihan pengobatan yang Saudara sebutkan diatas, Saya rasa untuk orang2 yg memakai akal sehat akan tahu harus memilih berobat dimana. Itulah bedanya manusia dengan satwa, PUNYA KEMAMPUAN MEMILIH DENGAN AKAL SEHAT
    Makanya buat saya pribadi... orang2 yg mengunjungi POnari adalah orang-orang stress/putus asa/mendekati gila (gak pake logika lagi)

    BalasHapus
  4. kasian rekan rekan kita,
    mudah mudahan perekonomian bangsa ini cepat membaik, agar rekan rekan kita bisa mendapatkan pengobatan yang lebih baik .... agar tidak sembrono dalam mengambil keputusan.

    bukan berarti saya menolak apa yg dimiliki oleh orang - orang seperti ponari, tidak. semua orang punya kelebihan masing2.

    hanya saja, sepertinya kok kurang gimana gitu ....

    BalasHapus
  5. memang ponari sebuah fenomena yang menghebohkan.
    saya sendiri belum menonton film 'Patch Adams', tetapi saya setuju dengan opini pemilik blog ini.
    intinya semua pengobatan ada unsur sugesti, bagaimana mau cepat sembuh kalau perawat di rumah sakit kelas ekonomi melayani dengan 'wajah manyun'. ingat lagu iwan fals 'ambulan zig zag' hiks.
    soal ini bukan 'cubitan' buat pemerintah untuk menyediakan tempat berobat yang layak dan adil, tapi jusru sebuah 'tamparan' yang kalau ndak ada reaksi adalah arogansi pihak penguasa karena tidak peka akan keadaan masyarakat.
    buat doker indonesia jangan hanya berpendapat kalau ada kasus macam 'ponari' tapi lakukan tindakan nyata dengan terus menerus 'kampanye' kesehatan, hingga masyarakat paham dan mendapat fasilitas pengobatan yang terjangkau.
    juga ulama yang mengingatkan masalah 'syirik', tolong juga tegur dan ingatkan masyarakat 'kaya' yang berobat dengan 'obat mahal' padahal mungkin dengan 'obat generik' yg lebih murah bisa sembuh, rata2 mereka 'men-dewa-kan' dokter/rumah sakit/obat2an yang mahal.
    mudah2an kita dapat mengambil hikmah dari heboh 'ponari'.

    BalasHapus
  6. Setuju dan tidak setuju. Saya setuju bahwa banyak hikmah yang bisa diambil daru hal ini. Tetapi kurang fair juga jika anda membandingkan dengan sebuah film yang merupakan karya fiksi. Beberapa contoh yang anda ambil juga belum jelas kebenarannya. Juga mesti diingat biarpun patch adams tidak setuju dengan cara kerja rumahsakit yang tidak manusiawi, dia sendiri adalah seorang dokter (M.D) yang berarti cara pengobatannya pun sesuai kaidah medis, hanya lingkungan dan cara penanganannya lebih manusiawi dan gratis.

    BalasHapus
  7. Bagaimana kalau diusulkan untuk menganalisa kandungan batu ajaib Ponari, jangan-jangan didalamnya terkandung bahan obat lagi.

    BalasHapus
  8. mari kita buat pabrik air minum "poNari Sweat"
    air sehat berkhasiat,,,menyembuhkan berbagai penyakit,,,haha

    BalasHapus
  9. Terimakasih komentar temen2..
    spesial buat para anonim, terus terang saja, siapa sih yang tidak terusik ngeliat ribuan orang antri bahkan sampek ada yg meninggal kecapean hanya untuk kesembuhan...ini kenyataan, pasti ada yg gak beres dengan masyarakat kita..Film Patch Adams itu bukan karya fiksi, ttp diangkat dari kisah nyata, coba di browse aja...ada kesamaan antara ponari dan patch adams, yaitu, pertama keduanya sama2 keluar dari kaidah medis dan logika kedokteran, yang kedua, dlm hemat saya, keduanya sebenrnya mengandalkan sugesti. yang ketiga, terlepas dari berapa persen yang sembuh, dan tidak sembuh, keduanya sama2 diminati dan dipercaya oleh pasiennya. Memang saya tidak berteori, tp saya hanya mengangkat kenyataan...
    semoga tulisan saya ini bermanfaat...

    anonim, where is your link?

    BalasHapus
  10. hehhh... heran, jaman sudah maju seperti sekarang, masih saja orang percaya begituan. capek deh!

    BalasHapus
  11. Mungkin Tuhan memberikan kelebihan kpd ponari agar bisa membantu kaum yg lemah/miskin.coz Zaman sekarang Kebanyakan Rumah Sakit mengutamakan pelayanan bagi yg ada jaminanannya,seandainya lebih banyak lagi org2 yg punya kelebihan sprti ponari dan siap membantu kaum yg lemah bisa2 rumah sakit jd sepi..hhhee
    Asal cara pengobatannya gak menyimpang dari ajaran islam tak ada salahnya kita berobat ke mereka...toh yg kita cari kesembuhan bukan kesugihan..!!

    BalasHapus
  12. ya udah..ponari sama batunya suruh mandi di hulu sungai atau di laut..jadinya semua air kecipratan manfaatnya
    orang tersugesti batunya kan?

    wew mandi masal

    BalasHapus
  13. weleh ene postingan , numpang nunut nembak keyword yah.....wakakakkaak..ponari sweat emang legittttttt

    BalasHapus
  14. aq koq malah jijik toh mas..liyat air yg dicelupin batu...joyok ahhh...kotor.....tanpa rasio...

    BalasHapus
  15. hehehehe
    masih tentang si ponari ya???
    hehehehe
    bingung aku ma anak kecil itu, terkenal banget ya???
    aku yang udah gedhe ini aja gak terkenal lo..

    BalasHapus
  16. Kasihan ponarinya. Tereksploitasi

    BalasHapus

Bagaimana pendapat Anda tentang tulisan di Blog Nindrianto ini? Speak up your mind...

It's Me !