03 Juni 2009

Haruskah kita menabung di Bank?

BY Nunung Indrianto IN 5 comments

Sejak kecil kita telah dididik untuk rajin menabung. Bahkan sekarang pun kita harus rajin menabung. Karena ada pepatah, hemat pangkal kaya. Menabunglah agar tidak buntung. Tetapi benarkah kita harus menabung di bank? Tepatnya, sesuai judul artikel ini, haruskah kita menabung di bank? Kita pasti mengerti manfaat menabung, dan janganlah kita boros. Masalahnya haruskah di bank? kalau iya, bank yang seperti apa? Bank konvensional atau Bank Syariah? atau bank yang lain? Mendingan simak dulu tulisan ini...

Artikel saya angkat karena saya menemukan sebuah tulisan menarik tentang uang tabungan di bank. Maksudnya, benarkah menabung di bank cukup efektik untuk menyimpan uang kita? Judul asli artikel ini adalah Bank bukan Tempat untuk Penabung Kecil dan Pemula? Dari situs aslinya di http://www.mediakonsumen.com/Artikel4441.html. Begini tulisan lengkapnya:

Pernahkah anda setelah mencetak buku tabungan, membaca kemudian kening anda berkerut bertanya-tanya "Kenapa saldonya segini? Perasaan kemarin cuma pakai sekian rupiah via ATM." Tak usah bingung, kejadian diatas juga terjadi pada kebanyakan orang terutama yang mempunyai tabungan bernilai kecil, katakanlah dibawah 5 juta rupiah. Bagi orang awam sulit memahami mengapa nilai tabungan mereka menyusut, yang mereka tahu jika menabung uang akan bertambah karena berbunga. Namun saat ini jangan harap duit membukit jika punya tabungan tidak lebih dari 5 juta.


Ambil contoh BCA, bank yang memiliki penabung paling banyak di Indonesia, produk Tahapan Silver bank mengenakan biaya administrasi Rp. 10,000 per bulan. Adapun suku bunga untuk tabungan bersaldo 1-10 juta sebesar 2% per tahun, dengan asumsi nilai tabungan awal 5 juta rupiah dan tidak pernah ditambah selama setahun, nasabah akan mendapat bunga Rp. 100,000 per tahun. Setelah dipotong pajak 20%, pendapatan nasabah tinggal Rp. 80,000 padahal biaya administrasi yang harus dibayar selama setahun mencapai Rp. 120,000. Alih-alih bertambah, nilai tabungan awal malah nombok Rp. 40,000 dalam setahun. Penabung kian cepat kehilangan uangnya jika nilai tabungan dibawah 1 juta karena bunganya nol persen. Ketika tabungan berada dinilai 6 juta bunga dan biaya administrasi akan impas, dengan kata lain bunga yang didapat dalam setahun habis untuk bayar biaya administrasi selama setahun juga. Tabungan umumnya diterapkan bunga rendah oleh perbankan. Bank Mandiri, bank terbesar di Indonesia bahkan hanya memberi bunga 1.75% untuk tabungan bernilai 1-5 juta rupiah, kian tinggi nilai tabungan bunga akan semakin besar, namun biasanya tidak lebih dari 4% per tahun.


Dengan alasan harus membangun dan memelihara jaringan separti ATM, kemudian membangun infrastruktur teknologi informasi untuk mengelola dan menjaga rekening nasabah tetap aman membuat bank merasa berhak memungut biaya administrasi. Bunga kecil atas tabungan pun dirasa pantas oleh bank karena tabungan dapat ditarik setiap saat sehingga bank tidak leluasa menggunakannya. Berbeda dengan deposito yang ada jangka waktunya jadi bank mudah mengelolanya. Saat ini sebenarnya tabungan sudah merupakan jasa yang harus dibeli nasabah. Dengan menabung, nasabah memiliki banyak keuntungan, seperti keamanan dan kemudahan bertransaksi karena tidak harus membawa uang tunai kemana-mana. Lebih jauh lagi tabungan dipahami bukan lagi tempat menggandakan uang, tetapi hanya sekedar cadangan uang tunai mengantisipasi keperluan transaksi segera atau mendadak.


Perbankan cenderung memanfaatkan pengetahuan para penabung di Indonesia yang umumnya masih awam. Bank tidak pernah menjelaskan kepada nasabah misalnya jika saldo tabungannya dibawah 5 juta, dana nasabah tidak akan pernah bertambah. Tabungan sebenarnya amat berarti bagi perbankan, sebab tabungan merupakan dana murah. Bandingkan dengan deposito yang bunganya bisa mencapai 12% per tahun. Semakin besar porsi tabungan dalam struktur dana pihak ketiga, makin besar margin keuntungan bank. Kasarnya, dengan memberi bunga tabungan hanya 2%, bank bisa menjualnya sebagai kredit dengan bunga 14%. Indonesia yang masyarakatnya belum bankable (Ada 82 juta rekening bank di Indonesia atau baru 35% dari total penduduk saat ini), bank seharusnya memberi perhatian pada penabung kecil dan pemula. Namun jika masyarakat kecil tahu uang tabungan mereka akan berkurang, kemungkinan mereka akan ragu menabung dibank. Lalu bagaimana dengan program AYO KE BANK yang dicanangkan Bank Indonesia? Bisa sia-sia saja.
Wah, gimana nih bos....ada saran...?

5 komentar:

  1. waduh buset kl kaya gini pantesan uang gw selalu berkurang kl liat trasaksi ATM ma buku nya udah beda......

    ternyata gitu ya....pantesan gaji pegawai bank gede ya ternyata bnayak lari kesitu kali ya...huf

    BalasHapus
  2. Sebaiknya pilih investasi daripada menabung di bank

    BalasHapus
  3. makanya para pegawai bank kaya-kaya, tukang kebon aja bisa punya rumah gede lagi. habis kalao utang tak bayar bunga, padahal negera utang keluar negeri aja mesti kasih bunga. gimana nih indonesia, jangan loyo........

    BalasHapus
  4. wah... bener juga nih. jadi ujungnya2 kita membayar fasilitas yang diberikan oleh pihak bank, seperti autodebet, penyimpanan uang. gitu ya kan? gak bisa berharap ke bunga jadinya.

    BalasHapus
  5. Mungkin...ini blog yang menarik kita ke dunia Perbankan , ayo menabung...

    BalasHapus

Bagaimana pendapat Anda tentang tulisan di Blog Nindrianto ini? Speak up your mind...

It's Me !