23 Februari 2009

Konversi / Mengubah File Dat (VCD) menjadi MP3

BY Nunung Indrianto IN , 14 comments

Punya koleksi VCD music? Ingin konversi atau mengubah file VCD Dat musik menjadi MP3?? Mari saya bantu....(weks, kesannya pakar bangets). Kebetulan saya kemarin dapat 'kerjaan' dari seorang teman yang ingin mengubah VCD musik menjadi File MP3 biasa, artinya cuman diambil audio-nya saja. Apa alasan teman tersebut? Ternyata gambar-gambar dalam VCD tersebut benar-benar hot! Musiknya jenis musik disco tapi perpaduan nuansa irama padang pasir dengan R&B...(bisa nggak membayangkan?). Nah, karena gambar-gambar dalam VCD tersebut benar-benar Hot alias gak beda ama nonton -maaf- film Be-ef..Jadi, teman saya ini berpikir bagaimana biar aman untuk disetel di rumahnya dan bisa diputar di handphone. Akhirnya dia menginginkan dibuat MP3 saja.

Mengubah VCD (Dat file) menjadi MP3 Audio sebenarnya bukan hal baru dan canggih-canggih amat. Biasanya saya memakai VCD Cutter atau Imtoo converter. Tetapi kali ini kedua program itu tidak saya pakai karena VCD cutter hanya menghasilkan MP3 format MPEG-1 layer 2. Dan format ini tidak disupport oleh banyak pemutar MP3 di handphone. Jadi kurang fleksibel. Terus soal Imtoo, tidak saya gunakan karena hanya versi trial. Memang menghasilkan MP3 dengan format MPEG-1 layer 3. Tetapi karena versi trial maka output yang dihasilkant tidak bisa full, hanya beberapa detik saja. Akhirnya saya browse dan berhasil menemukan software yang benar-benar dibutuhkan. Namanya FreeMp3/Wma/Ogg Converter. Software ini jelas sesuai, karena Free, Ringan dan bisa menghasilkan MP3 dengan format yang sesuai dengan pemutar MP3 di handphone. Silakan download saja di link tersebut. Cuman tetap saja saya membutuhkan VCD Cutter. Karena software FreeMp3/Wma/Ogg Converter hanya mengkonversi file audio (MP3, wav, wma, cda, aiff dll), bukan langsung meng-konversi dari file Dat-nya VCD. Jadi saya memanfaatkan file output hasil VCD Cutter kemudian saya konversi lagi melalui software FreeMp3/Wma/Ogg Converter.

Memang banyak software sejenis, tapi yang ini saya jamin lebih ringan dan simple. Tinggal cari file yang dikonversi, setting file output yang diinginkan dan tentukan bit ratenya. Terus klik Convert. Beres!

Download FreeMp3/Wma/Ogg Converter.
Download VCD Cutter retail

20 Februari 2009

Bob Sadino : Belajarlah menjadi orang Goblok

BY Nunung Indrianto IN 9 comments


Belajar menjadi orang goblok? Ah Bob Sadino ini bisa aja. Pasti Anda bingung dengan judulnya, 'goblok' kok dipelajari! Dimana-mana kita harus belajar dari orang pintar, supaya menjadi pintar...Tulisan ini saya dapat dari milist....semoga bermanfaat! Nah..silakan disimak..

Awalnya saya juga bingung, tapi setelah bertemu langsung dengan Om Bob (panggilan akrab Bob Sadino), baru percaya bahwa statement itu benar.


Bob Sadino terkenal dengan pengusaha yang 'Nyleneh' gaya dan pola pikirnya. Sejak dari jaman Soeharto, dia terkenal dengan 'kostumnya' yang selalu bercelana pendek. Begitulah cara Om Bob bertemu dengan semua presiden negeri ini.

Di kediamannya di kawasan Lebak Bulus sebesar 2 hektar, dia membuat kami pusing dengan statement-statement nya yang super Nyleneh.

Misalnya dia tanya,"Menurutmu kebanyakan orang bisnis cari apa Jay?" Spontan kita jawab,"Cari untung om!" Kemu dian Om Bob balik menjawab,"Kalo saya cari rugi!"

Dia menjelaskan, kalo bisnis cari untung, apa selamanya untung? Sama juga kalo bisnis cari rugi, apa selamanya rugi? Maknanya adalah, rugi tak perlu ditakuti. Bahkan karyawan zemchicks (pabrik daging olahan) dan Kemfarms (exportir sayur dan buah) diijinkan untuk berbuat salah.

Sampai-sampai ada karyawan yang pernah membuat kerugian US$ 5 juta dan masih bekerja sampai sekarang.

Goblok atau Pintar? Trus apa maknanya belajar 'Goblok'?

Bukankah banyak orang pandai tapi tak berhasil dalam usaha atau bahkan melangkahpun tak berani.

Om Bob bilang, kalo orang 'goblok' itu tak pandai menghitung, makanya lebih cepat mulai usaha. Kalau orang pinter, menghitungnya 'njlimet', jadi nggak mulai-mulai usahanya.

Orang 'goblok' berbisnis tidak berfikir urutan, sedangkan orang pinter, berfikir urut. Orang pintar tidak percayaan dengan orang lain, jadi semuanya mau dikerjain sendiri, seolah tak ada
yang dapat menggantikan dirinya.

Nah, kalau orang 'goblok', dia akan mencari orang pintar dan harus lebih pintar darinya, untuk menjalankan usahanya.

Orang pintar ketemu gagal, cenderung mencari kambing hitam untuk menutupi kekurangannya. "Ehm, situasi ekonominya lagi down", atau "Pemerintah nggak mendukung saya", kata orang pintar.

Lain hal dengan orang 'goblok', jika ketemu gagal, nggak merasa kalau dia gagal, karena dia merasa sedang 'belajar'.

Bahkan Om Bob juga mengatakan bahwa dia sebagai orang 'goblok' tidak melakukan perencanaan usaha, target ataupun mengenal cita-cita.

Namun sebaliknya, semua karyawannya harus memiliki target dan perencanaan. Buahnya, orang 'goblok' yang jadi bossnya orang pintar.

Itulah adilnya Tuhan menciptakan orang pintar dan orang 'goblok'.

Masalahnya sekarang, siapa yang merasa pintar, siapa yang merasa goblok?

Trus, enakan mana jadi orang pintar atau orang 'goblok'? Jika Anda semakin bingung dengan tulisan saya, artinya bagus, berarti Anda mulai ....Goblok!

Kalau Anda emosi, berarti Anda pintar. Itu juga kata orang Om Bob lho..!


Filosofi 'goblok' Bob Sadino, dia ibaratkan seperti air sungai yang sedang mengalir. Ketemu batu di depan, ya belok kanan atau belok kiri. Namun seperti air di sungai, kitapun harus siap dikencingi, dibuangi sampah dan kotoran-kotoran yang lain. Jadi, pilih mana? GOBLOK atau PINTAR?

"Pengusaha tak harus pintar dalam segala hal. Tapi harus pintar mencari orang pintar!" Nah lo....

15 Februari 2009

Fenomena Ponari dan Patch Adams

BY Nunung Indrianto IN 18 comments

Fenomena Ponari, terasa sangat kental akhir-akhir ini. Praktek pengobatan ala Ponari, sang bocah ajaib dari Jombang, Jatim, yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Kisahnya bermula ketika dia secara tiba-tiba mendapatkan sebuah batu ketika ada petir menyambar di sekitar dia bermain, inilah batu petir. Kemudian, singkat cerita, batu itu dibawa ke keluarganya, dan akhirnya di antara keluarga Ponari itu ada yang mendapat semacam 'wangsit/ilham/bisikan ghaib' yang mengisyaratkan bahwa batu itu berkhasiat menyembuhkan penyakit. Setelah dicoba kepada adik Ponari yang waktu itu menderita muntaber dan si adik sembuh, maka tersebarlah berita ini ke seluruh pelosok desa dan terus seperti berantai, miriplah dengan bisnis MLM, terus menyebar hingga ke seluruh kota dan luar kota bahkan hingga tersebar di negeri ini. Ratusan, bahkan ribuan orang rela mengantri untuk mendapatkan pengobatan dari Ponari, anak berumur 1o tahun, kelas 3 SD dan tinggal di rumah berdinding 'gedhek' (bambu) ini. Pengobatan yang dilakukan adalah layaknya seorang 'dukun' mengobati pasiennya, yaitu batu itu dicelupkan di segelas air atau mangkok, kemudian air itu diminumkan kepada si sakit. Sampai berita terakhir hari ini, tidak terdengar adanya pasien yang menggugat pengobatan Ponari. Apakah sembuh atau bagaimana, tidak ada berita. Yang pasti, Ponari ini telah 'sukses' menyedot perhatian orang bahkan berbagai media cetak dan elektronik hingga media online pun tidak luput mengupas soal berita Ponari, sang bocah ajaib. Dari sumber berita juga disebutkan, penghasilan parkir para 'pasien' Ponari, tidak kurang dari 5 juta rupiah perharinya. Bahkan keluarga Ponari ini telah menyumbang dana untuk desanya dalam pembangunan jalan menuju rumahnya. Dilansir juga, bahwa pendapatan dari uang sukarela para pasien kepada Ponari, bisa mencapai puluhan juta rupiah perharinya. Wah! Wah! Berita terakhir disebutkan praktek Ponari ini sementara ditutup aparat, dikarenakan adanya korban meninggal, akibat kelelahan fisik terlalu lama mengantri.

Saya tertarik mengulas fenomena Ponari ini, karena saya jadi ingat film Patch Adams. Mudah2an diantara pembaca ada yang sudah menontonnya. Film ini mengisahkan seorang calon dokter atau dokter muda yang dipecat dari universitasnya karena dianggap berpotensi menganut praktek kedokteran yang tidak lazim. Bagaimana sesungguhnya? Film ini diangkat dari kisah nyata seorang bernama Hunter Campbells 'patch adams', demikian nama lengkapnya, lahir pada 28 Mei 1945 di Washington. Setelah menempuh SMA pada tahun 1963, Patch Adams menyelesaikan pendidikan medisnya dan memperoleh gelar Doctor of Medicine dari Medical College of Virginia, Health Sciences Division of Virginia Commonwealth University. Patch kemudian menikah dengan Linda. Bersama-sama dengan para sahabatnya, Patch dan Linda mendirikan Gesundheit! Institute yang mengelola rumah sakit gratis. Patch percaya bahwa menyembuhkan seharusnya merupakan sebuah interaksi antarmanusia yang penuh kasih sayang, kreatif, dan humoris, bukan melulu transaksi bisnis. Menurutnya lebih jauh, pengobatan berteknologi tinggi dewasa ini sangat mahal (karena itu dia tak memungut bayaran atau menggunakan asuransi dari pihak ketiga), tidak manusiawi (dia menghabiskan waktu hingga empat jam untuk mencatat riwayat awal dari setiap pasien), dan suram (”Sehat,” kata Patch, ”berkaitan dengan tawa.”).

Mengapa saya mengangkat dan mensebandingkan film Patch Adams dengan Ponari? Karena saya terusik dengan beberapa pendapat sebagian masyarakat yang ditayangkan di televisi. Misalkan seorang dokter senior yang berpendapat betapa bahayanya bila praktek Ponari ini berkembang semakin jauh karena akan menyesatkan masyarakat akan arti pengobatan medis yang sesungguhnya. Dokter ini juga menekankan bahwa sebenarnya yang terjadi di pengobatan Ponari tidak lebih dar sekedar pengobatan sugesti. Juga seorang ulama yang mengingatkan masyarakat agar jangan sampai terjadi syirik, dimana akhirnya orang percaya bahwa yang menyembuhkan penyakit adalah Ponari dan batunya, bukan Allah swt. Saya tidak akan ikut memvonis, apakah praktek Ponari ini berbahaya atau tidak. Yang jelas, ribuan orang telah membuktikan. Ribuan orang percaya. Ini bukan soal kemiskinan dan tidak adanya biaya berobat secara medis. Ini juga bukan soal kebodohan. Karena para pengantri Ponari tidak semuanya orang tidak berpendidikan. Benar kata seorang sosiolog, seorang yang menderita penyakit, apalagi penyakit kelas berat, terjadi kepanikan didalam dirinya. Sehingga apapun dilakukan untuk mendapat kesembuhan. Sekarang bila diberikan pilihan. Berobat ke dokter dengan biaya mahal, berobat ke rumah sakit gratis tetapi dengan syarat-syarat administrasi yang ribet, dan berobat gratis ke Ponari. Ketiga pilihan ini sama-sama berpeluang sembuh. Artinya bisa sembuh, bisa juga tidak. Orang berobat ke dokter, tentu bnyak bukti yang berhasil sembuh. Namun yang tidak sembuh juga banyak. Istilahnya ndak cocok ke dokter itu. Orang berobat ke dukun, juga banyak terbukti sembuh. Yang tidak sembuh? Juga banyak... Jadi sama-sama kan? Lalu kenapa ribuah orang mengantri ke Ponari? Saya kira ada baeknya kita menyimak kembali ke film Patch Adams. Dokter ini menyediakan rumah sakit gratis dan dengan metoda penyembuhan tanpa obat. Pasien hanya dibuat senang, happy dan merasakan indahnya hidup. Saya ingat di film itu, ketika seorang nenek lumpuh, dokter Patch Adams bertanya, adakah keinginan hidup si nenek yang belum terpenuhi? Nenek itu menjawab, ada. Dia ingin mandi di kolam spaghetti. Nah, dokter nyeleneh inipun akhirnya bersama timnya menyediakan sekolam spaghetti untuk sang Nenek. Kemudian si nenek 'nyemplung'...untuk beberapa saat. Betapa bahagianya sang Nenek. Impian selama hidupnya akhirnya terwujud. Dan tiba-tiba, kelumpuhan si nenek menghilang. Dia bisa berjalan kembali tanpa kursi roda. Dia bisa berdiri! Itu adalah satu contoh saja. Yang jelas pasien dokter Patch Adams tidaklah sedikit. Ketika aparat setempat menutup prakteknya dengan alasan 'mal praktek dan segala macam', ribuan orang juga memprotes keputusan pengadilan.

Saya pikir, kita harus lebih bijak. Praktek Ponari adalah cubitan buat pemerintah, rumah sakit, para medis dan dokter. Buatlah pasien itu senang ketika berada di rumah sakit. Didiklah para perawat-perawat itu mampu berinteraksi secara personal dengan pasien. Ini juga bukan soal uang. Orang akan membayar berapapun agar bisa sehat kembali. Tetapi juga diingat, salah satu momok masyarakat kita ketika harus berobat, adalah soal biaya. Pengobatan gratis terhadap masyarakat tidak mampu adalah benar dan harus didukung. Terapkan saja yang sebenar-benarnya. Jangan ada lagi penyunatan dana lagi. Kalau memang dianggarkan untuk masyarakat, ya sudah berikan saja. Bagaimana dengan masyarakat yang tidak miskin?Terapkan saja biaya yang semestinya. Kalau memang harus subsidi silang ya terapkan saja. Tetapi, please..jangan bedakan perlakuan terhadap yang gratis atau tidak gratis. Di negeri ini, terutama di rumah sakit negeri, perlakuan rumah sakit terhadap masyarakat umum dengan kelas pavilyun jelas beda. Lihatlah, dan bandingkan wajah-wajah para perawat di kelas pavilyun atau kelas VIP...kemudian pindahlah liat wajah-wajah para perawat di kelas bangsal atau kelas ekonomi. Hehehe....apa-apan ini? Jadi jangan heran, kalo praktek Ponari ini lebih populer. Bahkan kalau para dokter, maaf-maaf nih, semakin meninggikan suara dan berkata, praktek Ponari menyesatkan, tidak ilmiah, tidak terbukti secara klinis, tidak dapat dipertanggungjawabkan dan sebagainya....bukan tidak mungkin akan terus bermunculan Ponari-ponari yang lain....Hmm...

Buat ulama, saya juga merendahkan suara buat Anda, berilah contoh reaksi yang baik...karena orang berobat ke dokter pun bisa berakibat syirik. Kenapa? Lah, kalo keimanan seseorang itu lemah, kan bisa saja berkeputusan, bahwa sang dokterlah yang menyembuhkan...bukan Sang Maha Pemberi Obat, Allah Azza Wa Jalla....karena, saya yakin, obat penyembuh penyakit itu tidak berasal dari bantuan dokter saja...

Buat Ponari...salam kenal...sekolah lagi ya...ditunggu blognya....wekekekee.....

02 Februari 2009

HADIAH VALENTINE YANG ROMANTIS, the most romantic Valentine's Gift

BY Nunung Indrianto IN 17 comments




Mau hadiah Valentine yang romantis? Tidak perlu beli macam-macam…Tidak perlu assesoris aneh-aneh…ngapain pake acara yang ribet? Ceritakan saja tulisan saya pada pasangan Anda….Dijamin romantis……

Dongeng yuk yank....

The story of Valentine’s day:

Pendeta Valentine diceritakan tinggal di Roma pada abad 3 Masehi. Pada masa ini Roma diperintah oleh kekaisaran Claudius. Selama kekasairannya, rakyat banyak yang menderita akibat peraturan-peraturan yang ditetapkan menekan dan sewenang-wenang terhadap rakyat.

Kaisar Claudius suatu ketika kebingungan untuk mencari anggota pasukannya. Dia merasa banyak pria pada masa itu enggan menjadi sukarelawan pasukan karene berat meninggalkan istri serta keluarganya. Kaisar akhirnya berfikir, seandainya para pria-pria itu tidak menikah dan berkeluarga, maka tentu mudah mencari pasukan. Keputusan pun dikeluarkan tentang larangan adanya pernikahan lagi di negerinya. Rakyat merasa keputusan peraturan ini sungguh tidak masuk akal. Salah seorang menteri ada yang menentang keputusan kaisar Cladius, yaitu Pendeta Saint Valentine.

Peraturan ini tetap berlangsung meskipun Kaisar Claudius meninggal dunia. Banyak orang yang menikah diam-diam. Termasuk pendeta Valentine. Pernikahan pendeta Valentine dilakukan sangat rahasia. Namun tetap saja terbongkar, dan akhirnya pendeta Valentine ditangkap dan dipenjara bahkan diancam dibunuh.


Banyak orang muda datang mengunjungi Valentine. Salah satunya adalah anak perempuan pengawal penjara. Pada hari kematiannya Valentine menulis catatan ke putri itu dan menandatanganinya dengan kalimat "Love from your Valentine". Saat itu tertanggal 14 Februari, 269 Masehi.

Dari sinilah orang seluruh dunia mengenangnya dengan Hari Valentine, 14 Februari.

Salam hangat saya :
Menikahlah, sebagai wujud cinta dan kasih sayang Anda.

sumber:
http://arthur.k12.il.us/arthurgs/valstory.htm
http://www.bconnex.net/~mbuchana/realms/valentine/valindx.html
http://www-personal.engin.umich.edu/~cstrick.holidays.valentines.html
gmbr : http:// indropranoto.wordpress.com

It's Me !