25 Januari 2016

Bias Makna Di Balik Kalimat "WANI PIRO?"

BY Nunung Indrianto IN , , 3 comments

Bias Makna Ungkapan Wani Piro?
Iklan "Wani Piro"
Lagi-lagi saya tertarik menuliskan betapa serunya obrolan di grup WA kami beberapa waktu lalu. Kali ini topiknya santai saja, yaitu tentang istilah WANI PIRO. Hihi. Ada apa dengan kalimat ini ya?

Sebenarnya kalimat Wani Piro ini kan dari ungkapan berbahasa Jawa, dan menjadi terkenal ketika sebuah iklan rokok mengangkatnya menjadi tema dalam iklannya. Jadilah satire atau ungkapan ini menjadi makin terkenal, di samping yang membawakannya (dalam iklan tersebut) juga lucu. Wani Piro yang berarti "Berani Berapa" dalam bahasa Indonesianya akhirnya menjadi sering diucapkan, dan telinga kita menjadi akrab dengan kalimat ini. Sedikit-sedikit, bilangnya "Wani Piro?"...kemudian disusul dengan ketawa haha-hehe. Lucu juga ya, ngomong sendiri...ketawain sendiri. Hihi.

Sebelum masuk ke dalam obrolan seru di dalam grup WA saya ini, saya ingin sendiri mereview lagi -kayak dosen aja :-), ada apa kok iklan rokok terkenal itu mengusung satire ini. Penasaran nggak sih? Nggak ya? Kalau nggak, baiklah saya ndak akan mbahasnya. Hehe. Begini, saya cuman akan meng-copas tulisan dari mas Tono (Fxtono) dalam Kompasiana, sebenarnya ada apa di balik iklan Wani Piro ini :

Ungkapan wani piro dalam Iklan tersebut sebenarnya merupakan sindiran terhadap kenyataan hidup dan budaya suap yang telah menghegemoni kehidupan bangsa ini dalam segala urusannya. Jika dunia jin yang merupakan dunia ghaib pun tidak luput dari suap, maka dalam dunia nyata manusia, tentunya praktik sogok tersebut dapat lebih parah kenyataannya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/fxsutono/wani-piro-berani-berapa_5517810e813311fd689de1d3

Kemudian ada tulisan lagi dari blog pantauiklan.blogspot.com, dari sisi periklanan makna Wani Piro ini adalah :

Berdasarkan kasus iklan Djarum 76 dengan “Wani piro”nya ini, daya ingat yang ditimbulkan oleh iklan lebih fokus kepada iklannya daripada produknya. Dalam hal ini, ada dua hal yang perlu mendapat perhatian. Misi mengingat dan segmen iklan. (http://pantauiklan.blogspot.co.id/2012/04/kekuatan-tagline-wani-piro-dari-djarum.html)

Heemmm, okay sepertinya bahasan kita sedikit berat ya. Tapi, saya nggak akan membahas dunia iklan seperti dalam tulisan Tagline Iklan Kopi Kapal Api sebelumnya ya hehe, tetapi akan saya ceritakan bagaimana ungkapan Wani Piro ini menjadi topik seru dalam grup WA saya.

Begini, diskusi kami diawali ketika ada kawan grup yang mengomentari bahwa kita sebaiknya menghindari mengucapkan kata-kata Wani Piro ini pada rekan kerja lebih-lebih kepada calon konsumen atau klien. Whatts??

Jadi, menurut kawan ini, dan kawan ini juga mendapat quote dari bos-nya (salam pak Boss :), ungkapan Wani Piro ini mengandung makna kesombongan dan membuat efek illfeel (gak enak rasa). Eh apa sih bahasa Indonesia-nya Illfil? Intinya, ketika seseorang mengucapkan kalimat "Wani Piro" ini, kemudian suasana menjadi tidak nyaman. Jika diucapkan kepada calon konsumen atau klien, kemungkinan penawaran bisnis kita bisa saja ditolak. Jika diucapkan kepada teman, maka kesan sombong yang akan timbul. Dan jangan coba-coba juga diucapkan kepada atasan kita. Hihi.

Jadi, kemungkinan begitu, dan menurut kawan saya ini (menurut bos-nya ding), ungkapan "Wani Piro" ini bernuansa tidak produktif ! Ditambahkan juga, ketika seseorang mengucapkan Wani Piro, maka secara tidak sadar, hal itu memberikan cerminan bahwa dia sebenarnya tidak memiliki 'value' yang tinggi. Karena eh karena, jika seseorang memiliki 'value' yang tinggi, dia tidak akan mengatakan Wani Piro. Loh? Loh! Lol! :D -becanda ding.

Ditambahkan juga, ketika seseorang mengucapkan Wani Piro, maka secara tidak sadar, hal itu memberikan cerminan bahwa dia sebenarnya tidak memiliki 'value' yang tinggi. Karena eh karena, jika seseorang memiliki 'value' yang tinggi, dia tidak akan mengatakan Wani Piro.Memang pada ungkapan Wani Piro ini, mengandung sebuah nilai -keakuan- yang sangat tinggi, dan kesombongan yang luar biasa. Dan dibalik kesombongan, ada sesuatu yang disembunyikan, yaitu keminderan, ada sebuah kelemahan yang dia sembunyikan. So, jangan pernah diucapkan
Tapi ini serius ya (tapi santaiii). Memang pada ungkapan Wani Piro ini, mengandung sebuah nilai -keakuan- yang sangat tinggi, dan kesombongan yang luar biasa. Dan dibalik kesombongan, ada sesuatu yang disembunyikan, yaitu keminderan, ada sebuah kelemahan yang dia sembunyikan. So, jangan pernah diucapkan. Dan ini di satu sisi saja... karena ingat, setiap sesuatu selalu memiliki sisi berbeda. 

Apa ya benar ada keterkaitan antara ungkapan Wani Piro dengan ketidakproduktifan seseorang atau dengan kelemahan seseorang?

Nah, ini dia sisi lain dari dibalik kalimat Wani Piro. Menurut saya pribadi, ketika seseorang mengucapkan ungkapan "Wani Piro?" pada lawan bicaranya, maka saya berharap dia mempunyai sesuatu yang bernilai yang akan dia tawarkan. Dan seseorang tidak akan mengucapkan Wani Piro, jika dia tidak memiliki 'sesuatu'. Ada nilai positivisme. Maka, dibalik kalimat Wani Piro ini, sebenarnya mengandung makna kemampuan, kesiapan dan optimisme serta harapan. Wani Piro itu menyimpan sebuah kesiapan mental/spiritual (yang akan diikuti juga oleh aspek lain, materi, fisik dll) dalam menghadapi situasi tertentu. 
Ungkapan Wani Piro itu ada nilai positivisme. Maka, dibalik kalimat Wani Piro ini, sebenarnya mengandung makna kemampuan, kesiapan dan optimisme serta harapan. Wani Piro itu menyimpan sebuah kesiapan mental/spiritual (yang akan diikuti juga oleh aspek lain, materi, fisik dll) dalam menghadapi situasi tertentu. Ungkapan ini hanya ingin menunjukkan "aku mampu, aku ada"
Meskipun efeknya akan menimbulkan kesan sombong, atau memunculkan suasana tidak nyaman atau illfil, so what. Wani Piro itu adalah lebih kepada ungkapan retorika, tidak butuh untuk dijawab segini, atau berapa saja. Ungkapan ini hanya ingin menunjukkan "aku mampu, aku ada". Lantas apakah kita harus menyalahkan orang lain hanya karena kita merasa illfil? Tentu tidak. Sah-sah saja seseorang mengucapkan Wani Piro, hanya dan hanya jika dia memiliki kapabilitas. Dan itu memang perlu pembuktikan. Wani Piro adalah sikap optimis dan positif.

Mau komen? Wani Piroo.... :D
(Di Jakarta, di sela break...)

3 komentar:

  1. Sebuah ungapan akan bernilai positif atau negatif, menyenangkan atau tidak menyenangkan, bikin ilfil (ilang feeling) atau tamfil (tambah feeling) semua tergantung sama konteksnya...

    Faktor siapa yang diajak bicara, di mana, kapan, dan bagaimana menyampaikan bisa sangat menentukan efek dari ungkapan tersebut.

    Ungkapan wani piro dalam situasi non formil akan memberi efek ice breaking, lucu, dan akrab dan mendekatkan. Akan tetapi mungkin kurang pas kalau di terapkan pada situasi formal dimana orang (bisa jadi otoritas) mengharapkan anda melakukan sesuatu ...

    Anyway... tulisan yang renyah dan segar. Like it!

    BalasHapus
    Balasan
    1. sure! Wani Piro surely adalah ungkapan nonformil mbak Amalia. Kalaupun itu diucapkan dalam suasana formil, hemm, mungkin itupun dalam konteks bercanda, seperti komen mbak Amalia di atas, konteksnya berupa ice breaking dan lucu bahkan pendekatan jika terjadi kebuntuan dlm komunikasi yg sedang 'kaku'. :)
      anyway maturnuwun ya komennya....:)

      Hapus

Bagaimana pendapat Anda tentang tulisan di Blog Nindrianto ini? Speak up your mind...

It's Me !