18 Oktober 2016

Jalan Kaki 1,3 km Ditemani Payung Teduh

BY Nunung Indrianto IN , , , , 2 comments


Ada banyak cara untuk menikmati suasana. Saya misalnya. Tiap pagi dan sore, saya ke kantor dengan berjalan kaki dari stasiun KRL di bilangan Jakarta Selatan, begitu pula sebaliknya. Saat sore, saya dan seorang rekan kerja yang kebetulan rumahnya satu wilayah di kawasan Bogor, bareng-bareng berjalan kaki dari kantor ke stasiun KRL. Jika saya cek dari google maps, jarak kami berjalan itu sejauh 1,3 km, itu biasanya ditempuh dalam waktu 15 menit. Tentu dengan kecepatan sedang. Ngos-ngosan kali kalau berjalan lebih cepat. Hehe.

Seperti yang dialami para pekerja kantoran di Jakarta lainnya, suasana pagi itu adalah 'perjuangan'. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil, maka perjuangannya adalah melawan kemacetan. Bagi yang naik kendaraan umum seperti angkot, bis, trans-Jakarta (busway) atau Commuter KRL, maka perjuangannya adalah melawan suasana hiruk pikuk dan desak-desakan. Semuanya juga berjuang memburu waktu. Siapa yang bisa pagi, siapa yang bisa pas dapat kendaraan yang pas, maka akan relatif 'aman' menuju tujuan a.k.a kantor masing-masing. Aman disini bisa berarti lebih cepat menuju tujuan, tidak terlalu terjebak puncak kemacetan atau kondisi penumpang tidak terlalu berdesak-desakan. Saya kira masing-masing sudah memiliki triks dan 'selah' untuk bisa lebih nyaman dalam perjalanan menuju tempat kerja.

Jadi intinya bukan melawan kemacetan atau menang-menangan dengan waktu, tetapi apapun kondisinya, kita harus tetap semangat hingga di tempat kerja, dan saat kerja juga bertahan dengan semangat hingga pulang kerja juga tetap lancar dan selamat sampai di rumah kembali.


Memang sih, terasa membosankan jika menjalani kegiatan yang sama setiap hari. Namun saya tidak kurang akal. Maka untuk suasana pagi seperti ini, saya pilih lagu dari Payung Teguh untuk menemani 'jalan pagi' saya. Judulnya Cerita tentang Gunung dan Laut. Pernah dengar dong. Nih liriknya...


Aku pernah berjalan disebuah bukit
Tak ada air, tak ada rumput
Tanah terlalu kering untuk ditapaki
Panas selalu menghantam kaki dan kepalaku

Aku pernah berjalan diatas laut
Tak ada tanah, tak ada batu
Air selalu merayu
Menggodaku masuk ke dalam pelukannya

Tak perlu tertawa atau menangis
Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa

Aku tak pernah melihat gunung menangis
Biarpun matahari membakar tubuhnya
Aku tak pernah melihat laut tertawa
Biarpun kesejukkan bersama tariannya

asyik kan lagunya? :)

Jalanan basah di pagi hari
Lagu ini benar-benar pas buat menemani jalan pagi saya, terutama saat masuk jalan-jalan di perkampungan, jalan tembus menuju kantor. Pemandangan pagi yang ditemui adalah suasana sepi di sebuah kompleks perumahan dinas entah itu rumah dinas atau pensiunan instansi apa, saya belum nanya-nanya. Kampung dengan mungkin cuman belasan rumah berbentuk hampir seragam. Pemandangan yang pasti tampak pertama adalah anak kecil agak gemuk yang disuapin sarapan pagi oleh seorang mungkin baby sitter atau mbok atau entahlah nyebutnya. Di depan rumah seorang rumah bertuliskan Bidan, yang juga menerima kost-kostan. Agak ke depan lagi, tampak rumah berjejer, dengan seorang lelaku tua tak berdaya duduk di kursi teras rumah. Kadang terliat ngantuk atau tertidur kadang terlihat membaca koran, kadang juga diam mengamati orang berjalan di depan rumahnya. Mungkin dia mengamati saya ya? Hehe. Lagu Payung Teduh masih berputar...


Berjalan beberapa langkah, aku melewati seorang ibu-ibu mungkin karyawati, tampak dari pakaiannya. Lalu di depan lagi, saya hafal akan melewati musholla yang saya tahu baru beberapa bulan kemarin di renovasi. Musholla yang rapi dab bersih. Sepertinya memang digarap dengan serius dan direnovasi oleh tukang bangunan yang bagus kerjanya. Tidak asal-asalan. Saya gak heran, musholla di kompleks perumahan dinas dan berada di belakang gedung-gedung bertingkat di area selatan Jakarta ini, tentu tidak susah untuk mencari donatur. Hehe. Alhamdulillah.


Di sebelah musholla ini terdapat lapangan bulutangkis. Yang mesti kutemui adalah beberapa mobil yang diparkir di sana, mungkin milik warga yang sengaja di parkir di lapangan badminton. Kuliat pagi ini seorang gadis muda membawa tas, yang sepertinya tidak terlalu buru-buru berjalan. Mungkin dia mahasiswi hendak ke kampus tapi mungkin masih mampir ke teman-teman dulu. Mungkinkan akan 'ngerjain' tugas kuliah bareng? Ah kepo. Hehe...lagu payung teduh masih berputar...


Tak perlu tertawa atau menangis
Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa

Suasana perumahan yang sepi di pagi hari, jalanan basah setelah diguyur gerimis pagi tadi, atau kemarin sore. Entahlah. Kuliat lagi bapak-bapak tua menyapu pojokan jalan di temani seorang laki-laki muda. Mungkin petugas kebersihan. Sesekali, beberapa motor juga melintasi jalanan tembus ini.

Akhirnya saya sampai juga di bekas kampung yang sekarang rata, karena habis digusur. Saya berpapasan dengan seorang bapak mengenakan baju safari menaiki sepeda pancal (ontel). Dia tersenyum padaku. Kenapa dia tersenyum ya? Saya pun membalas senyuman bapak itu. Tapi saya masih gak paham, kok dia seramah itu?

Aku pernah berjalan disebuah bukit
Tak ada air, tak ada rumput
Tanah terlalu kering untuk ditapaki
Panas selalu menghantam kaki dan kepalaku


Dan akhirnya aku kembali bertemu jalan raya dengan bising dengan kemacetan. Lima menit lagi sampai di kantor. Lagu Payung Teduh sudah akan habis pula.... Selamat pagi, selamat bekerja kawan..!


Akhirnya, inilah video clip lagu Cerita tentang Gunung dan Laut-nya Payung Teduh, yuk disimak...




2 komentar:

  1. Tulisan yang bagus. Sampe terhanyut membacanya. Keep on writing my friend

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks teman....jangan bosan baca ya. terhanyut? bawa pelampung dong. :)

      Hapus

Bagaimana pendapat Anda tentang tulisan di Blog Nindrianto ini? Speak up your mind...

It's Me !